Percepat Modernisasi Pertanian, BRMP Identifikasi CPCL PM-AAS
Minahasa Utara,-Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara (Sulut) melaksanakan kegiatan identifikasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk penerapan metode Pertanian Modern Model Advance Agricultural System (PM-AAS). Kegiatan ini bertujuan mempercepat modernisasi pertanian di wilayah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) pada hari Rabu (22/7/2026).
Identifikasi berlangsung di hamparan persawahan Desa Watudambo II, Kecamatan Kauditan. Lokasi tersebut dipilih sebagai kawasan strategis untuk uji coba penerapan sistem pertanian modern.
Kegiatan dihadiri langsung oleh Direktur Wilayah (Dirwil) BRMP Sulut Steivie Karouw. Turut hadir Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Minut Royke Rampengan beserta Kepala Bidang Tanaman Pangan dan tim terkait.
Hasil identifikasi menunjukkan sebagian besar lokasi memiliki potensi pengembangan lahan pertanian yang cukup besar. Potensi tersebut akan terwujud optimal apabila kegiatan Optimasi Lahan (Oplah) Tahun 2026 selesai dilaksanakan dengan baik.
Perbaikan infrastruktur menjadi kebutuhan utama, meliputi pembangunan pintu air, normalisasi saluran irigasi, dan saluran pembuangan. Pembangunan sarana irigasi yang memadai sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan produksi pertanian.
Hamparan persawahan Makansar memiliki potensi tanam seluas 20 hektare. Kawasan ini berpeluang besar ditetapkan sebagai lokasi percontohan penerapan PM-AAS di tingkat kabupaten.
Tim juga mengusulkan pembangunan irigasi perpompaan (Irpom) untuk mengatasi kendala kekeringan yang kerap terjadi di kawasan tersebut. Langkah ini menjadi solusi penting guna menjamin ketersediaan air irigasi secara berkelanjutan.
Sejumlah kendala lain teridentifikasi di lapangan, antara lain keterbatasan alsintan, kerusakan irigasi, dan ketersediaan pupuk yang terbatas. Selain itu, pembangunan lahan percontohan atau demplot sangat diperlukan untuk meningkatkan keyakinan petani terhadap metode baru.
Melalui identifikasi CPCL ini, diharapkan dukungan infrastruktur, mekanisasi, dan pendampingan penyuluh dapat berjalan terpadu. Hal ini akan mempercepat penerapan PM-AAS guna meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendukung swasembada pangan di Minut.